Selasa, 17 Februari 2015

Kegelapan di Malam Hari


Malam, saat-saat paling menyebalkan dalam hidupku. Dimana saatnya aku harus menutup lelahku dengan bercanda-ria dengan keluargaku, namun itu tidak mungkin dilakukan oleh anggota keluarga Handika. Yaitu keluargaku.

Ingin rasanya aku bersenda gurau dengan mereka, bercanda, menghabiskan waktu senggangku dengan mereka. Namun, mereka seakan-akan menjadi kritikus dengan kata-kata pedas yang melukai hatiku. Hatiku jadi ikut panas mendengar omelan-omelan mereka yang terus saja memojokkanku
, dan membanding-bandingkan aku dengan Erita. Anak dari teman dekat ayahku. Erita begitu cerdas dan cantik, siapapun yang menjadi salah satu  bagian hidup Erita pasti akan terus memujinya.

Ya Tuhan, mengapa aku masih saja tidak menemukan apa yang akan aku jadikan patokan untuk membuat kedua orang tuaku merubah sikapnya padaku? Aku jadi makin lelah untuk terus berfikir bahwa mereka akan mengerti.

“Ayah, aku sebentar lagi akan mendaftar audisi pencarian bakat. Ayah tolong, aku mohon dukungannya ya!”

“Masak aja cuma bisa masak telor, mau hidup sendirian waktu karantina? Mau makan apa kamu, makan hati?”, sungguh aku terlihat sangat menyedihkan saat aku bertanya hal ini terhadap ayahku.

Aku dan Erita sebenarnya saling mengenal sejak kami masih berada di bangku Sekolah Dasar, dia memang menjadi anak emas di setiap wali kelas dimana ia belajar. Bahkan hingga saat ini ia menjadi salah satu anak emas di sekolahku, prestasinya dibidang perhitungan matematika, fisika, dan kimia tidak diragukan lagi. Hingga ia menyabet piala olimpiade SAINS tingkat Nasional. Sungguh perbandingan yang sangat tidak pantas denganku.

Bahkan perbandingan yang begitu jelas antara aku dan Erita saat aku tidak lolos dalam tes masuk ke universitas negeri, sedangkan Erita berhasil lolos tes dengan nilai yang sangat memuaskan. Sehingga Erita dapat dengan bebas memilih universitas negeri dimanapun ia kehendaki. Sedangkan aku, hanya mendapat ceramahan-ceramahan panjang tentang berhasilnya Erita yang berhasil lolos tes untuk masuk ke universitas negeri.

Rasanya aku benar-benar ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya di sebuah bukit bersama dengan kegelapan di malam hari. Agar tidak ada orang yang mengetahui bahwa seseorang yang sedang bersedih dan meratapi keadaannya ini adalah Anisa Handika yang selama ini mereka kenal. Ya, aku memang terkenal sebagai anak yang periang dan tak pernah galau. Sehingga teman-temanku menjuluki aku sebagai Princess Happiness, tapi terkecuali untuk kedua orang tuaku.

Mereka begitu merasa kehilangan Mendiang kakak Reny yang sangat cerdas dibandingkan diriku. Ya, kak Reny meninggal sepuluh tahun lalu saat aku baru menginjak usia tiga tahun. Kak Reny yang baru berusia tujuh tahun itu, sudah mau menginjak kekelas Empat SD. Namun tidak lama setelah kenaikan kelas, dia meninggal karena mengidap kanker lambung kronis yang menggerogoti lambung dan tubuhnya yang mungil.

Ya Tuhan, apa yang aku bisa lakukan di waktuku yang tinggal sebentar ini? Diam-diam aku memeriksakan diriku ke dokter karena merasa ada yang janggal dengan keadaan tubuhku. Maag yang terus berkelanjutan, dan rasanya sakit sekali itu ternyata kanker lambung yang memasuki tahap akut.

Ya Tuhan, aku menahan rasa sakit ini berbulan-bulan. Dan coba aku sembuhkan diam-diam dengan membeli obat penahan rasa sakit yang aku ambil dari tabunganku yang aku kumpulkan sendiri dengan susah payahnya. Akankah mereka masih akan membuat aku bersedih dengan keadaanku yang sedang sekarat ini?

Suatu hari aku merasa perutku sangat sakit pada bagian kiri, dan secara refleks aku memuntahkan semua isi perutku ke lantai. Betapa terkejutnya aku saat yang aku muntahkan itu hanyalah darah segar tanpa sebutir nasi yang berceceran di lantai. Dengan perut yang rasanya seperti ditusuk seribu pedang dan nafas yang terengal-engal, aku berusaha untuk menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan bekas darah yang menempel di mulutku dan mengelap lantai yang penuh dengan darah tersebut menggunakan handuk setengah basah. Aku berusaha untuk mengelap lantai yang penuh dengan muntahan darah tersebut sebersih mungkin dengan tenagaku yang hanya tersisa sedikit ini. Ku sembunyikan lap tersebut diantara tumpukan baju kotorku yang belum aku cuci, aku lap tanganku dengan baju kotorku sebersih mungkin agar tak ketahuan oleh ayah dan ibuku yang belum pulang dari perayaan ulang tahun pernikahan mereka ke sembilan belas tahun.

Dengan sisa tenagaku, aku menulis sebuah surat permintaan terakhir didalam buku diary yang aku gunakan sebagai curahan hatiku selama aku divonis mengidap kanker lambung akut yang bertahap menjadi kronis.




Surat Pemintaan Terakhir Untuk Kedua Orang Tuaku yang Aku Sayangi
.
Untuk Ayah dan Ibu yang sangat aku sayangi.
Sesungguhnya aku sangat menyayangi kalian, lebih dari diriku sendiri.
Maka dari itu aku menyembunyikan semua ini selama hampir berbulan-bulan lamanya.
Aku sebentar lagi akan menjemput kak Reny, dia bilang aku akan tersiksa kalau aku terus hidup dalam keadaan seperti ini terus.
Aku, mengalami hal yang sama dengan kak Reny.
Aku, juga mempunyai kanker lambung yang mematikan.
Dan rasanya, aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Terimakasih atas pengorbanan Ayah dan Ibu selama ini kepadaku
Maaf, aku adalah diriku.
Dan aku, bukanlah kak Reny.
Jadi maafkan Anisa Handika yang sudah banyak membuat kalian semua kecewa.
Selamat ulang tahun pernikahan ke-19 th, Ayah dan Ibu!
Dan..................
Selamat Tinggal!

Anisa Handika yang menyayangi Kalian





Tiba-tiba, rasanya tubuhku semakin sakit tidak karuan setelah menulis surat tersebut. Ingin menangis tapi air mataku tidak dapat mengalir.

Aku melihat lorong berwarna putih bersih, dengan seseorang yang memakai baju berwarna putih mendekat kearahku. Ternyata dia adalah kak Reny, dia adalah kakak kandungku yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Apa aku benar-benar sudah tiada atau hanya bermimpi?

“Kak Reny?”

“Iya, ini kakak. Kamu sudah dewasa ya? Kamu jadi makin cantik deh!”, tangannya mengelus-elus rambutku dengan lembut.

“Kakak juga, kakak cantik baget. Kakak, apa aku cuma mimpi? Tapi, semuanya kelihatan nyata?”

“Ini nyata, adikku sayang. Bukannya kakak sudah pernah bilang ke kamu, kalau kamu akan kakak jemput? Ayo, ikut dengan kakak! Kakak udah nunggu kamu lama banget, ayo!”

“Ya, kak! Ayo!”

Akhirnya datang juga penantian akhir yang akan terjadi pada setiap yang bernyawa.

Ayah, Ibu! Aku sungguh menyayangi kalian, selamat tinggal!





TAMAT

Tidak ada komentar:

Entri Yang Diunggulkan

Semangat Puasa

Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku. “Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan. “Iya, umi…” Aku berj...