Malam,
saat-saat paling menyebalkan dalam hidupku. Dimana saatnya aku harus menutup
lelahku dengan bercanda-ria dengan keluargaku, namun itu tidak mungkin
dilakukan oleh anggota keluarga Handika. Yaitu keluargaku.
Ingin
rasanya aku bersenda gurau dengan mereka, bercanda, menghabiskan waktu
senggangku dengan mereka. Namun, mereka seakan-akan menjadi kritikus dengan
kata-kata pedas yang melukai hatiku. Hatiku jadi ikut panas mendengar
omelan-omelan mereka yang terus saja memojokkanku, dan membanding-bandingkan aku dengan Erita. Anak dari teman dekat ayahku. Erita begitu cerdas dan cantik, siapapun yang menjadi salah satu bagian hidup Erita pasti akan terus memujinya.
Ya
Tuhan, mengapa aku masih saja tidak menemukan apa yang akan aku jadikan patokan
untuk membuat kedua orang tuaku merubah sikapnya padaku? Aku jadi makin lelah
untuk terus berfikir bahwa mereka akan mengerti.
“Ayah,
aku sebentar lagi akan mendaftar audisi pencarian bakat. Ayah tolong, aku mohon
dukungannya ya!”
“Masak
aja cuma bisa masak telor, mau hidup sendirian waktu karantina? Mau makan apa
kamu, makan hati?”, sungguh aku terlihat sangat menyedihkan saat aku bertanya
hal ini terhadap ayahku.
Aku dan
Erita sebenarnya saling mengenal sejak kami masih berada di bangku Sekolah
Dasar, dia memang menjadi anak emas di setiap wali kelas dimana ia belajar.
Bahkan hingga saat ini ia menjadi salah satu anak emas di sekolahku,
prestasinya dibidang perhitungan matematika, fisika, dan kimia tidak diragukan
lagi. Hingga ia menyabet piala olimpiade SAINS tingkat Nasional. Sungguh
perbandingan yang sangat tidak pantas denganku.
Bahkan
perbandingan yang begitu jelas antara aku dan Erita saat aku tidak lolos dalam
tes masuk ke universitas negeri, sedangkan Erita berhasil lolos tes dengan
nilai yang sangat memuaskan. Sehingga Erita dapat dengan bebas memilih
universitas negeri dimanapun ia kehendaki. Sedangkan aku, hanya mendapat
ceramahan-ceramahan panjang tentang berhasilnya Erita yang berhasil lolos tes
untuk masuk ke universitas negeri.
Rasanya
aku benar-benar ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya di sebuah
bukit bersama dengan kegelapan di malam hari. Agar tidak ada orang yang
mengetahui bahwa seseorang yang sedang bersedih dan meratapi keadaannya ini
adalah Anisa Handika yang selama ini mereka kenal. Ya, aku memang terkenal
sebagai anak yang periang dan tak pernah galau. Sehingga teman-temanku
menjuluki aku sebagai Princess Happiness, tapi terkecuali untuk kedua orang
tuaku.
Mereka
begitu merasa kehilangan Mendiang kakak Reny yang sangat cerdas dibandingkan
diriku. Ya, kak Reny meninggal sepuluh tahun lalu saat aku baru menginjak usia
tiga tahun. Kak Reny yang baru berusia tujuh tahun itu, sudah mau menginjak
kekelas Empat SD. Namun tidak lama setelah kenaikan kelas, dia meninggal karena
mengidap kanker lambung kronis yang menggerogoti lambung dan tubuhnya yang
mungil.
Ya
Tuhan, apa yang aku bisa lakukan di waktuku yang tinggal sebentar ini?
Diam-diam aku memeriksakan diriku ke dokter karena merasa ada yang janggal
dengan keadaan tubuhku. Maag yang terus berkelanjutan, dan rasanya sakit sekali
itu ternyata kanker lambung yang memasuki tahap akut.
Ya
Tuhan, aku menahan rasa sakit ini berbulan-bulan. Dan coba aku sembuhkan
diam-diam dengan membeli obat penahan rasa sakit yang aku ambil dari tabunganku
yang aku kumpulkan sendiri dengan susah payahnya. Akankah mereka masih akan
membuat aku bersedih dengan keadaanku yang sedang sekarat ini?
Suatu
hari aku merasa perutku sangat sakit pada bagian kiri, dan secara refleks aku
memuntahkan semua isi perutku ke lantai. Betapa terkejutnya aku saat yang aku
muntahkan itu hanyalah darah segar tanpa sebutir nasi yang berceceran di
lantai. Dengan perut yang rasanya seperti ditusuk seribu pedang dan nafas yang
terengal-engal, aku berusaha untuk menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan
bekas darah yang menempel di mulutku dan mengelap lantai yang penuh dengan
darah tersebut menggunakan handuk setengah basah. Aku berusaha untuk mengelap
lantai yang penuh dengan muntahan darah tersebut sebersih mungkin dengan tenagaku
yang hanya tersisa sedikit ini. Ku sembunyikan lap tersebut diantara tumpukan
baju kotorku yang belum aku cuci, aku lap tanganku dengan baju kotorku sebersih
mungkin agar tak ketahuan oleh ayah dan ibuku yang belum pulang dari perayaan
ulang tahun pernikahan mereka ke sembilan belas tahun.
Dengan
sisa tenagaku, aku menulis sebuah surat permintaan terakhir didalam buku diary
yang aku gunakan sebagai curahan hatiku selama aku divonis mengidap kanker
lambung akut yang bertahap menjadi kronis.
Surat Pemintaan
Terakhir Untuk Kedua Orang Tuaku yang Aku Sayangi
.
Untuk
Ayah dan Ibu yang sangat aku sayangi.
Sesungguhnya
aku sangat menyayangi kalian, lebih dari diriku sendiri.
Maka
dari itu aku menyembunyikan semua ini selama hampir berbulan-bulan lamanya.
Aku
sebentar lagi akan menjemput kak Reny, dia bilang aku akan tersiksa kalau aku
terus hidup dalam keadaan seperti ini terus.
Aku,
mengalami hal yang sama dengan kak Reny.
Aku,
juga mempunyai kanker lambung yang mematikan.
Dan
rasanya, aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Terimakasih
atas pengorbanan Ayah dan Ibu selama ini kepadaku
Maaf,
aku adalah diriku.
Dan
aku, bukanlah kak Reny.
Jadi
maafkan Anisa Handika yang sudah banyak membuat kalian semua kecewa.
Selamat
ulang tahun pernikahan ke-19 th, Ayah dan Ibu!
Dan..................
Selamat
Tinggal!
Anisa
Handika yang menyayangi Kalian
Tiba-tiba,
rasanya tubuhku semakin sakit tidak karuan setelah menulis surat tersebut.
Ingin menangis tapi air mataku tidak dapat mengalir.
Aku
melihat lorong berwarna putih bersih, dengan seseorang yang memakai baju
berwarna putih mendekat kearahku. Ternyata dia adalah kak Reny, dia adalah
kakak kandungku yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Apa aku
benar-benar sudah tiada atau hanya bermimpi?
“Kak
Reny?”
“Iya,
ini kakak. Kamu sudah dewasa ya? Kamu jadi makin cantik deh!”, tangannya
mengelus-elus rambutku dengan lembut.
“Kakak
juga, kakak cantik baget. Kakak, apa aku cuma mimpi? Tapi, semuanya kelihatan
nyata?”
“Ini
nyata, adikku sayang. Bukannya kakak sudah pernah bilang ke kamu, kalau kamu
akan kakak jemput? Ayo, ikut dengan kakak! Kakak udah nunggu kamu lama banget,
ayo!”
“Ya,
kak! Ayo!”
Akhirnya
datang juga penantian akhir yang akan terjadi pada setiap yang bernyawa.
Ayah,
Ibu! Aku sungguh menyayangi kalian, selamat tinggal!
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar