Sang surya menampakkan cahaya menyinari setiap sudut kota. Gadis
dengan rambut diikat tanpa berponi memoles wajah dengan bedak tabur. Tersenyum
di depan kaca sembari menghafal surah Al Qur’an yang telah dihafalnya.
Berjalan menyusuri jalan penuh batu-batu kerikil. Menyapa orang
yang dilewatinya. Tak terasa Esti sampai di halaman sekolah yang terhampar
rumput-rumput halus. Dinding bercat krem kuning terlihat cerah. Terhalau
pandangan Esti pada sekelompok pemain voli. Cara main yang keren, gerakannya
yang gesit, dan tertawanya yang selalu terumbar dari wajahnya
. Benar-benar keren, batin Esti. Yang dilihatnya adalah Sebastian Mukti, siswa kelas 6 SD yang memiliki prestasi bagus di kelasnya. Orangnya yang humble pada teman-temannya sehingga banyak yang menyukainya.
. Benar-benar keren, batin Esti. Yang dilihatnya adalah Sebastian Mukti, siswa kelas 6 SD yang memiliki prestasi bagus di kelasnya. Orangnya yang humble pada teman-temannya sehingga banyak yang menyukainya.
Ting.. ting..!! bel berbunyi semua siswa masuk ke kelas dan
memulai pelajaran. Pagi itu pelajaran IPS yang menjelaskan teori sejarah. Esti
suka sejarah karena memiliki alur cerita yang memberi banyak kesan. Tak terasa
jarum jam mengarah pukul 9.00 WIB and time for break. Perut lapar membuat Esti
ingin ke kantin bersama teman-temannya. Kue getuk lindri jadi favorit
jajanannya. Es kacang hijau jadi minuman andalannya.
“Esti, kamu dipanggil Pak Hakim tuh.” Kata Mira.
“Ada apa emangnya, Mir?” Tanya Esti.
“Ndak tau juga ya. Tapi kamu disuruh ke kelas enam soalnya Pak Hakim lagi ngajar kelas enam.”
“Oke. Makasih ya.” balas Esti.
“Sip. Sama-sama.”
Dengan rasa penuh tanya, ada apa ini? Secepatnya kaki Esti berjalan dengan raut wajah kebingungan.
Sampailah Esti di depan kelas 6. Awalnya Esti mengintip dari
pintu. Akhirnya ketahuan Pak Hakim.
“Eh Esti, sini kamu.” Kata Pak Hakim.
“Iya pak.” Ucap Esti.
Dengan perasaan deg-degan memasuki kelas kakak kelas untuk pertama kalinya. Rasa canggung pun makin kuat. Apalagi berjalan di depan kakak kelas. Esti pun disambut oleh jajaran cowok yang berdiri di depan papan tulis. Mereka memandangi Esti. Esti pun menghadap Pak Hakim.
“Esti, kamu hafal surah Ad-Duha?” Tanya Pak Hakim.
“Hafal pak.” Ucap Esti.
“Kalau begitu coba kamu hafalkan surah Ad-Duha di depan kakak-kakak kelasmu.” Kata Pak Hakim.
“Iya pak.” Balas Esti.
Dengan perasaan ragu hafal atau tidakkah aku, batinnya. Karena Esti masih dalam proses menghafal surah Ad-Duha di rumah.
“Bismillahirrahman nirrahim… Wad duha..”
Selang 5 menit berlalu, Esti pun selesai membaca surah Ad-Duha
yang sudah dihafalnya. Segenap rasa tegangpun hilang.
“Bagus. Kamu memang anak pintar. Nah, kalian harus mencontoh Esti. Dia hafal surah-surah pendek Al-Qur’an. Kalian harusnya bisa seperti dia. Nah Esti, sekarang kamu jewer telinga mereka yang sekarang di depan papan tulis. Mereka dihukum karena tidak hafal surah Ad-Duha.” Ucap Pak Hakim.
What? Aku harus jewer mereka? Batin Esti.
Esti pun bertambah grogi. Belum pernah ia menjewer cowok apalagi
kakak kelasnya. Disitu ada lima cowok yang berjajar sembari tertawa kecil
karena malu dengan kemampuan Esti dalam menghafal surah Al-Qur’an. Esti pun
menjewer mereka satu per satu. Saat menjewer cowok yang ke empat, Esti pun
kaget karena cowok yang ke empat itu adalah Bastian. Dengan rasa gugup Esti pun
menjewer cowok ganteng itu. Perasaan pun makin nervous. Esti berusaha tenang
agar tidak terlihat keadaan dia sedang gugup. Setelah selesai menjewer kelima
kakak kelasnya, Pak Hakim pun menyuruh Esti untuk kembali ke kelas. Esti pun
meninggalkan kelas enam tersebut dengan senyum cengengesan. Tak disangka hal
ini bisa terjadi, gumamnya.
Cerpen Karangan: Arini Resti Fauzi
Facebook: Arini Resti Fauzi
Facebook: Arini Resti Fauzi
http://cerpenmu.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar