Senin, 05 Juni 2017

Salah Respon

“Yah, mungkin mungkin semua ini kesalahanku” desah Niya di suatu siang yang teramat panas, sambil mengunci layar teleponnya dan kemudian membukanya kembali sampai berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa apa yang yang dilihatnya hanyalah sekedar salah baca. “ya tuhan, rasanya jantungku berhenti berdetak, napasku sesak” lirihnya dalam hati. Niya coba bertanya pada temannya “kawan-kawan ternyata sudah menikah pak rohman?”

“ah, iyakah?” sergah linha.

“lihatlah smsnya” kata niya. Tertulis jelas di sana “assalamu’alaikum a, how are you?” bunyi pesan yang dikirim niya dan “wa'alaikumsalam, im keeping my wife in hospital”.

Niya merasa seakan-akan dunia tak lagi berpihak padanya. Selama ini dia selalu merasa diistimewakan dengan segenap perhatian, nasehat dan juga waktu luang yang selalu diterimanya walaupun hanya untuk melepas kerinduan disamping tujuan untuk memperdalam pengetahuan bahasa inggrisnya. Tapi dia benar-benar tidak pernah berpikir bahwa ternyata guru yand disukainya sudah berkeluarga karena sepengetahuannya guru tersebut belum menikah.

“mungkin aku salah dalam mengartikan sikapnya selama ini, padahal aku pernah mengatakan pada linha bahwa bgaimana jika suatu saat aku mendenagar kabar pernikahannya, maka sungguh aku tak kan sanggup” Niya tak henti-hentinya bicara pada dirinya sendiri untuk melampiaskan segala keresahan dalam hatinya.
Waktu berlalu terasa begitu lama tak seperti biasanya, dedaunan yang berjatuhan pun terasa butuh waktu lama untuk sampai ke permukaan tanah. Masih teringat jelas di pelupuk matanya senyuman yang selama ini selalu menjadi harapan dan tujuan dari setiap kerja kerasnya dalam belajar hanya untuk membuatnya kagum dan bangga.

“berarti setiap pujian yang selam ini disampaikan hanya merupakan penyemangat dari seorang guru dan murid?” Niya masih saja bergumam dengan perasaannya sendiri. “yah, it’s time for move on”. Dia tetap berusaha untuk menerima kenyataan itu meskipun rasanya telah runtuh segala harapan yang telah dia bangun, tapi dia tetap berusaha menghidupkan semangat baru dari dalam dirinya karena masa depan yang suskses masih menguasai fikirannya ‘i sure, if i will get the succes for my future and that’s depend of me not other”. Ungkapan terakhirnya dan dia mulai tersenyum kembali meskipun terkadang masih saja bayangan itu datang tapi dia percaya seiring berjalannya waktu semuanya akan kembali seperti semula.

Cerpen Karangan: Samiatul Ahyani
Facebook: Samiatul Ahyani
hidup itu penuh dengan cerita tapi tergantung bagaimana kita mengolahnya menjadi puing-puing kesuksesan dimasa depan.


http://cerpenmu.com

Tidak ada komentar:

Entri Yang Diunggulkan

Semangat Puasa

Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku. “Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan. “Iya, umi…” Aku berj...