Bagaimana caranya mencintai? Sedangkan ia
terus berusaha lari tanpa menghirukan kejaran dariku. Bagaimana cara
memanggilnya? Sedangkan ia terus berpaling tanpa menatap bagian belakang
kehidupannya. Ya. Aku yakin dia sama sekali tak tahu menahu akan kehadiranku.
Aku mungkin bisa memahami. Tapi hatiku, sangat lelah terus mengikutimu. Terus
diam dan hening dalam berbagai tindakan. Apa langkah yang seharusnya kuambil.
Bila dia hanya terfokus pada pergerakannya sendiri.
Bahkan kakiku terus mengeluh. Kenapa harus
begini. Kenapa tak pernah sampai? Di mana pemberhentian terakhir rasa ini?
mengapa tak pernah menemukan waktu yang sesuai? Tapi aku jauh lebih merasa
kecewa. Dibanding hati yang harus terus mengiktiku. Dibanding kaki yang terus
membawa raga tanpa tujuan ini. Aku jauh lebih lelah. Tidak bisa berpaling,
karena memang tak ada tempat untuk itu. Jika aku kembali. Apakah semuanya kan
baik-baik saja? Apa jadinya bila rindu yang menggerogoti hatiku tak pernah
sirna, bahkan menggunung? Wahai sang pencipta perasaan, aku benar ingin mulai
ada di dalam hidupnya. Tapi bagaimana caranya? Seorang temanku berkata ”untuk
apa terus memendamnya jika yang kau ingin sudah di depan mata”
Aku bingung. Sungguh. Dia memang sudah
dekat, tak pernah luput dari pandangan. Tapi bagaimana dengannya. Apa dia tahu?
Apa dia setidaknya punya sedikit rasa peka? Aku tak pernah berpikir dia akan
menerimaku. Tapi setidaknya berilah aku sedikit harapan. Harapan hampa pun tak
apa. Mungkin aku akan bangga.
Apa aku begitu tidak populer di sekolah ini? Sehingga ia sama
sekali tak mengenaliku. Apa aku begitu menakutkan? Sehingga ia tak mau menatap
ke arahku. Sebenarnya ekspektasi apa yang kubayangkan. Berharap ia tersenyum
dan melambaikan tangannya padaku? Mendekatiku? Entah apa dan dimulai dari apa
semua perasaan ini. Menyakitkan. Terkadang begitu pilu sampai aku tak mampu
menaruh harapan lagi.
Begitu tak pantaskah aku dengannya? Apalah aku yang hanya
mencintainya dalam diam. Benar benar diam sampai dia tak berekspresi
terhadapku. Tetapi, jika aku ingin mencobanya. Kali ini. Benar-benar akan
kutunjukkan padanya. Walau sekedar lambaian tangan dengan pola senyuman kecil
di wajahku. Yang pertama kali. Mungkin yang terakhir, jika gagal.
“hei”
“ya”
“a..aku ..perkenalkan aku..” perempuan tanpa arti yang pernah menghinggapi hidupmu. Perempuan bersalah yang terus mengintai setiap langkahmu. Perempuan yang menginginkan sapaan hangat darimu. “..Kinar”. Dan aku pengikut setiamu. Tanpa kau sadari semua sangkut paut dirimu aku tahu. Bahkan jika kau tahu aku maka kau akan benar-benar tak peduli lagi terhadapku.
“ya, aku tahu kamu kok”.
Dan aku tak tahu jika kau tahu. Tapi, kau tak sekalipun tampak mengenaliku. Atau tampak seperti mengingatku sebagai teman sekelasmu. Dan sekarang kau begitu santai memandangku seolah memang benar kita teman sekelas.
Sang pencipta perasaan, apa Kau sengaja mencampur adukkan
perasaanku ketika melihat reaksinya. Apa kau sengaja membawaku hanyut oleh
perasaan mengagumi ini. Maksudku cinta ini. Apa benar aku jatuh cinta, tapi
terjatuh di jurang kelam tak berujung?
“a.. iya.. tapi” bagiku kau seolah misteri di kelas ini. “kita tak saling mengenal” sama sekali tidak. Apa kau tak menyadarinya.
“maaf”
“ya tak apa” dan aku memaafkanmu tapi tidak dengan hatiku.
“aku memang jarang bersosialisasi dengan anak cewek di kelas ini. Tapi, bukan berarti aku tak mengenalmu”
Apa maksudmu? Kau juga mengenaliku? bagaimana caranya? Apa kau juga punya bakat stalker sepertiku? Aku tak pernah menyadarinya dan memang tak pernah terjadi. Kau pasti berbohong.
“aku duluan”
“ya” apa secepat ini. Aku baru menyapamu. “eh, tunggu”
“ya?”
“aku.. ingin mengatakan sesuatu. Aku..” mencintaimu tanpa kau tahu aku sudah terhipnotis olehmu.
“..bolehkah aku berteman denganmu?”
“tentu”
“ya” apa secepat ini. Aku baru menyapamu. “eh, tunggu”
“ya?”
“aku.. ingin mengatakan sesuatu. Aku..” mencintaimu tanpa kau tahu aku sudah terhipnotis olehmu.
“..bolehkah aku berteman denganmu?”
“tentu”
Entah mengapa aku hanya ingin berteman denganmu. Aku merasa
berteman saja cukup. Asal kau mau menganggapku ada di bumi ini.
Cerpen Karangan: Mitha Melanie Putri
Facebook: Mitha Melanie Putri
Ig: mithamelanie
Facebook: Mitha Melanie Putri
Ig: mithamelanie
http://cerpenmu.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar